Menyingkap Kembali Jejak Gemilang Kerajaan Loloda di Halmahera
Di tengah riuhnya narasi empat kerajaan besar di Maluku Utara—Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo—tersimpan sebuah kisah kebangkitan yang jarang terjamah. Sebuah situs kerajaan kuno, Kerajaan Loloda, di Halmahera, pernah nyaris ditelan zaman, terlupakan dari ingatan kolektif. Namun, berkat dedikasi seorang putra daerah, Mustafa Mansur, serta semangat pelestarian tradisi, jejak sejarah Loloda kembali mengemuka, menegaskan jati diri lokal dan kekayaan warisan budaya Indonesia.
Menelusuri Jejak Sejarah yang Hampir Terlupakan
Transformasi zaman telah menggeser fungsi kerajaan-kerajaan Nusantara dari entitas politik menjadi institusi budaya. Di sinilah nilai-nilai luhur, tradisi, dan identitas sebuah masyarakat menemukan ruang untuk terus hidup dan diwariskan. Kerajaan Loloda pun mengikuti lintasan ini, berdiri sebagai penjaga khazanah budaya. Namun, perjalanannya tidaklah mulus. Selama bertahun-tahun, Loloda merana, nyaris terhapus dari kesadaran publik, bahkan di tanahnya sendiri.
Kisah kebangkitan ini berawal dari ketertarikan Mustafa Mansur pada masa studinya, saat ia mendalami sejarah kerajaan-kerajaan di Maluku Utara. Riset mendalam yang dilakukannya menjadi pemicu untuk merekonstruksi kembali narasi Loloda yang terputus. Berbekal kepedulian pribadi dan fondasi penelitian sejarah yang kuat, Mustafa bersama masyarakat setempat memulai upaya perlahan namun pasti sejak tahun 2008. Upaya ini, meskipun penuh keterbatasan dan membutuhkan waktu, akhirnya membuahkan hasil signifikan pada tahun 2016, ketika struktur lembaga kerajaan berhasil ditegakkan secara lebih sistematis dan kokoh.
Dari Aspirasi Personal Menjadi Kekuatan Pelestarian Budaya
Perjalanan selama kurang lebih 17 tahun untuk menghidupkan kembali Kerajaan Loloda adalah cerminan dari sebuah misi pelestarian yang gigih. Mustafa Mansur menyadari bahwa kepedulian terhadap budaya sering kali terkendala oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, ia memilih untuk menjadi pelopor, bergerak lebih dulu dalam memperkuat struktur internal kerajaan dan memperluas upaya pelestarian secara eksternal kepada generasi muda.
Saat ini, Kerajaan Loloda berfokus sepenuhnya sebagai institusi budaya, meninggalkan klaim kekuasaan dan beralih pada penguatan identitas, sejarah, serta kesinambungan nilai-nilai lokal yang membentuk jati diri masyarakat Halmahera. Dalam analisisnya, Mustafa Mansur juga menyoroti peran krusial pemerintah dalam pelestarian budaya. Banyak warisan budaya yang, meskipun diakui secara adat, belum memiliki dasar hukum yang kuat. Regulasi yang tegas dari pemerintah adalah kunci untuk mengakui dan melindungi kekayaan budaya ini sebagai bagian tak terpisahkan dari Indonesia.
Loloda: Manifestasi Jati Diri Lokal dan Potensi Destinasi Sejarah
Secara geografis, Kerajaan Loloda menempati posisi yang unik dan strategis, terhampar di perbatasan Halmahera Barat dan Halmahera Utara. Meskipun kaya akan sumber daya alam, wilayah ini masih menghadapi tantangan isolasi dan pembangunan yang terbatas. Namun, bagi Mustafa dan komunitasnya, kebangkitan Loloda melampaui pertimbangan geografis atau potensi ekonomi semata. Tujuan utamanya adalah menegaskan persatuan budaya, menunjukkan bahwa di balik batas-batas politik, terjalin kesatuan identitas yang kuat.
Atas dedikasi luar biasa dalam membangkitkan lembaga kerajaan sebagai institusi budaya, Mustafa Mansur dianugerahi Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025. Penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa perjuangan melestarikan wajah kebudayaan Indonesia tidaklah sendiri. Kerajaan Loloda hari ini bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah ruang hidup bagi ingatan kolektif, tradisi, dan harapan akan eksistensi budaya Nusantara yang abadi. Kisah ini menawarkan perspektif mendalam bagi siapa pun yang tertarik pada eksplorasi budaya dan destinasi sejarah yang kaya makna di pulau terisolasi, sekaligus menjadi inspirasi tentang kebangkitan budaya yang tak lekang oleh waktu.

